Skincare Premium

Justifikasi Skincare Premium - beningbersinar

Kenapa yang Premium-Premium Harganya Selangit?
Pernah ngebatin nggak kenapa merek tertentu bisa enak aja jualan krim sampai jutaan rupiah, sementara merek lain untuk produk sejenis cuma dibandrol nggak sampe 100 ribu perak? Tenaaaaang, kalian nggak sendiri!

Crème de la Mer dari merek La Mer yang terkenal mahal itu, misalnya, dipuji setinggi langit dan diperkuat sama testimoni selebriti dunia kayak Charlize Theron dan Britney Spears yang memang suka banget sama moisturizer tersebut. Orang yang tau kisah awal-mula merek ini pun biasanya juga bakal langsung kepincut sama produknya dan lupa kalo harga 4 jutaan buat krim muka 60 ml itu bukan hal yang lumrah.

Pendiri La Mer, Max Huber, yang berkebangsaan Jerman adalah ahli fisika luar angkasa yang pernah jadi korban ledakan laboratorium di sekitar tahun 1950-an. Gara-gara luka bakarnya yang parah itu, dia lantas menghabiskan 10 tahun hidupnya untuk meneliti kelp (sejenis ganggang yang tumbuh di laut) yang kemudian memang terbukti nggak cuma bisa memudarkan bekas luka bakarnya tapi juga bikin kulitnya lembut dan kenyal.
Kelp yang ngambilnya mesti ke laut itu akhirnya jadi bahan utama Crème de la Mer yang terkenal dengan komposisi Miracle Broth-nya. (Makanya nama merek ini pun La Mer yang artinya “dari laut”).

Bener banget yang dibilang para marketer kalau tren jualan jaman now sebenarnya bukan lagi jualan barang atau jasa, tapi jualan cerita untuk menarik simpati orang. Semua brand sekarang kudu bisa jadi pendongeng (storyteller) untuk menarik perhatian target pasarnya.


Sebabnya Jadi Mahal
Ternyata ada beberapa faktor yang bikin produk skincare jadi mahal. Yang pertama adalah teknologi yang dipakai untuk menciptakan produk tersebut. Kalau teknologinya adalah terobosan baru di dunia sains, pasti investasinya gede dan butuh bertahun-tahun sampai akhirnya bisa aman dimanfaatkan untuk formula produk skincare tertentu. Dan sangatlah manusiawi kalau si produsen ingin balik modal, jadi dia masukkanlah ongkos riset bertahun-tahun itu ke harga produk. Belum lagi kalau ditambah bahan-bahan langka bin ajaib yang dibutuhkan, plus lamanya proses produksi, biaya pastinya makin membengkak.

Shiseido Future Solution LX Legendary Enmei Ultimate Luminance Serum berukuran 30 ml dilempar ke pasaran nyaris Rp 7 juta karena bahan utamanya, tanaman bernama Enmei asal Gunung Koya yang dianggap sakral oleh masyarakat Jepang, harus dipetik di hari yang disebut tensha nichi (hari
baik menurut Feng Shui-nya orang Jepang) biar bawa energi positif. Daun Enmei sendiri sudah ratusan tahun terkenal sama khasiat penyembuhan yang no play play.

Selain Enmei, produk ini juga mengandung Green Treasured Silk yang diambil dari ngengat (moth) yang hidup di pohon ek. Mesti mantengin berapa pohon ek untuk nyari si ngengat ini, bayangkan sendiri biaya produksinya, gaes!

Sementara Chanel Sublimage L'essence Lumiere (Rp 7jutaan per botol ukuran 40 ml) pakai bahan aktif dari Anthyllis, tanaman yang bisa bertahan di cuaca ekstrem dan konon dahsyat untuk anti-aging karena bisa mengencangkan kulit yang (mulai) keriput. Cara kerjanya adalah dengan merangsang pembentukan protein di epidermis. Karena nggak mau rugi udah meneliti si Anthyllis ini bertahun-tahun, dan khasiatnya pun huwow, semua serum yang diproduksi Chanel pun kemudian pakai bahan aktif Anthyllis yang kaya antioksidan dan nutrisi.

Sulwhasoo Timetreasure Honorstige Cream (60 ml) dengan harga jual 12 jutaan (iya segitu duit semua lho, nggak pake campur daun nangka!) selain mengandung sel aktif ginseng juga mengandung jamur Reishi yang dijuluki jamur keabadian. Produk ini mengklaim bikin kulit kenyal dan terasa lebih
kencang kayak abis Botox. Berkhasiat mengurangi inflamasi dan kerutan, sekaligus merangsang regenerasi sel kulit, jamur Reishi sendiri banyak ditemukan di daerah yang lembap dan sudah ratusan tahun jadi bahan wajib di dunia pengobatan herbal Cina.


Faktor kedua yang bikin skincare jadi mahal adalah wadahnya. Pump yang kedap udara, misalnya, pasti ongkos produksinya lebih mahal. Sebelum nemu bentuk, ukuran, material, dan cara kerja pump yang pas juga pastinya butuh proses research & development (R&D) yang panjang. Produk premium
tentunya menjunjung tinggi eksklusifitas, dan ogah bener kemasan produknya sama dengan produk lain yang telah ada di pasaran. Maka mereka pasti akan membuat kemasan dengan desain dan seringkali sistem penggunaannya juga eksklusif, untuk menambah "wibawa" dan ke-mulyo-an produk tersebut. Meski tidak menambah keampuhan kerjanya, namun dalam banyak situasi, desain
kemasan ini juga membantu keawetan zat aktif yang dikandung produk tersebut, menjaga higienisnya, serta kemudahan pengaplikasiannya ke wajah kita.

Faktor selanjutnya yang bikin harga produk skincare tertentu jadi mahal adalah branding dan biaya promosi (yes, termasuk kirim-kirim sample produk ke influencer untuk diulas, dengan kemasan/packaging/display yang dijamin akan bikin rakyat jelata menganga saking mencengangkan mevvahnya). Karena apapun yang diberi label sebagai sesuatu produk premium, yang dijual adalah image dan gaya hidup, bukan semata-mata produknya thok.

 

Yang Mahal Lebih Menarik
Di Swedia pernah dibuat penelitian, di mana segerombolan cewek disuruh milih satu krim muka dari beberapa pilihan yang disediakan.

Ada krim premium di kemasan aslinya, krim premium yang dimasukkan ke wadah standar (alias nggak istimewa), dan krim murah tapi diwadahi mewah.
Ternyata semua (!) pilih yang packaging-nya mewah, baik yang krim premium beneran maupun yang cuma packaging-nya doang tapi isinya murah.
Dari penelitian itu terbukti kalo mahal-murah itu hanyalah permainan marketing (persepsi orang sama visual yang ditampilkan produk lewat packaging), nggak ada hubungannya sama efektivitas produk. Tapi entah gimana otak kita udah terprogram pemikiran kalo krim yang mahal pasti performanya lebih ciamik.

Ndilalah emang ada orang-orang yang hanya mau pake produk premium karena nggak mau dirinya ketahuan atau membiarkan dirinya pake barang murah. Sementara mereka yang belum mampu beli produk premium pun – diakui atau nggak – pengen suatu saat bisa ngerasain atau beli produk premium tersebut. Jadi mampu atau nggak mampu, produk premium itu selalu jadi #lifegoals para
konsumen, baik yang beneran bisa beli maupun yang masih halu bisa beli.


Berbagi Formula
Perlu diinget juga kalo produk murah dan premium bisa ada di bawah payung perusahaan yang sama. Misalnya, grup perusahaan L’Oreal sama dengan merek skincare Skinceuticals yang adalah merek premium.
Karena satu grup, bisa aja formula dan bahan-bahan satu produk dibagi ke beberapa merek, trus tinggal diwadahi ulang dengan kemasan yang lebih ekonomis biar harganya terjangkau.

Bisa juga star ingredient si produk premium nggak digunakan di merek yang lebih murah, tapi bahan-bahan pelengkap lainnya sama. Atau sebaliknya, perusahaan mewadahi ulang formula dari produk yang murah tapi populer dengan packaging yang keliatan premium. Inilah sebabnya produk murah dan premium formulanya bisa aja mirip-mirip.

Jadi sebenarnya perlu nggak sik kita-kita rakyat jelita ini buang-buang duit buat beli krim muka yang mahal?

Bebas sik, gaes! Kalau punya duit ya silakan, apalagi kalo penasaran! Tapi kata para dermatologis, sebenernya nggak perlu-perlu amat pake krim muka supermahal karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, di komponen harga yang selangit itu konsumen juga bayar packaging, marketing, dan bahan-bahan langka yang pasti ada penggantinya (bahan yang lebih nggak langka tapi nggak kalah efektif).

Biarpun harga mahal nggak menjamin efektivitas, tapi satu yang pasti – dan ini juga diakui para dermatologis – kalau moisturizer mahal itu rasanya beda banget pas dipake, di mana hal ini nggak bakalan didapat di krim yang murah. Para ahli nyebutnya cosmetically elegant. Nah jadi memang kalau produk mahal, rasanya wajib enak dan nyaman ya. Kalau nggak ya ke laut aja – makanya di Bening Bersinar nggak akan jual produk yang udahlah mahhaalll lalu dipakainya nggak enak pula. Hiiihhh ngeselin tuh!

Kalau kurang suka sama tekstur dan rasa moisturizer murah pas dioles karena terasa kurang elegan, dan ujung-ujungnya malah jadi nggak dipake, ya silakan beli yang mahal, asal terus dipake. Syukur-syukur harga mahal yang udah dikeluarin itu bisa jadi motivasi untuk telaten ngerawat wajah – karena telaten dan konsisten adalah 2 hal yang jadi momok dalam oles-mengoles skincare.

Kesimpulannya, sebagai konsumen kita jangan cuma liat harga pas milih produk skincare. Kalau emang ada bujet untuk beli yang mahal, pertimbangkan apakah keperluannya untuk memperbaiki atau mencegah. Selanjutnya, cari tau tentang bahan-bahan aktif yang sudah terbukti efektif untuk fungsi yang diinginkan tadi (memperbaiki vs mencegah). Merek-merek berkualitas (atau mahal) biasanya sudah punya tes klinis untuk ngebuktiin kalo produk-produk mereka efektif. Nah Googling deh tuh!

Intinya, of kors balik lagi ke penyelidikan tentang bahan-bahan aktif yang dikandung produk-produk yang diincar – pastikan memang itu yang kulit kita butuhin ya gaes, terlepas dari harga dan gimmick marketing-nya!

Baca lebih lanjut

Grafis Produk-produk Untuk Menghilangkan Noda/Flek/Hiperpigmentasi - beningbersinar

Produk-produk Untuk Menghilangkan Noda/Flek/Hiperpigmentasi

Grafis cleansing balm

Cleansing Balm

Dermaroller-beningbersinar

Dermaroller

Komentar

sukaskincarean 4 hari yang lalu

Jadi ingat SK II yang bikin mahal adalah karena SK II mengandung Pitera yang mana kandungan tersebut sudah dibeli hak patennya oleh SK II. Jadi nggak ada skincare lain yang kandungannya pakai Pitera, cuma SK II aja.

Mengenai “skincare mahal belum tentu cocok dan nyaman” itu benar adanya, saya pribadi pernah ngalamin nggak cocok sama skincare mahal. Rasanya? Beuhh sakit hati. Tapi dari situ saya belajar untuk mengenali kulit lagi. Akhirnya saya punya prinsip yang selama ini aku junjung tinggi yaitu “kasih yang terbaik untuk kulit, bukan yang termurah atau pun yang termahal, pokok yang terbaik” karena kulit kita bener bener unik banget. Nggak ada jaminan kalo kita beli cream 700.000 bakalan 100% cocok :")