Embel-embel "Dermatology Tested & Hypoallergenic" Jaminan Mutu?

Dermatologically Tested & Hypoallergenic - beningbersinar

Perhatiin nggak, kalo di produk-produk yang ada di rak kamar mandi dan meja rias penuh sama label “dermatologically tested” yang tanpa sadar embel-embel itu bikin kita halu kalo produk itu lebih superior. Minimal merasa produknya lebih aman karena yakin aja gitu nggak akan bikin iritiasi (padahal nyoba aja belum). "Kan udah dites!" gitu mungkin yang ada di pikiran kita. Ya nggak, gaes?

Artikel ini bakal mengupas tuntas arti kata “dermatologically tested” dan “hypoallergenic” sambil meluruskan kenapa selama ini kita segitu gampang percayanya sama label-label tersebut. Tapi of kors sebelumnya kita akan cari tau dulu definisi istilah-istilah itu. Setelah tau artinya, artikel ini juga akan mengulik gimana sebaiknya menyikapi produk-produk yang pake embel-embel “dermatologically tested” dan “hypoallergenic".

 

Banyak yang “Blank”

Pernah dilakukan survei ke 1.000 orang untuk cari tau apakah masyarakat beneran tau arti kata “dermatologically tested” dan “hypoallergenic” yang sering tercantum di produk-produk toiletries dan skincare. Biarpun tiap hari liat, tapi ternyata cuma ¼-nya lho yang beneran tau definisi istilah tersebut, gaes!

Dari kelompok yang nggak tau, sebanyak 75 persennya cuma nebak-nebak dan sisanya terang-terangan ngaku nggak tau sama sekali artinya. Bukan karena mereka nggak bisa bahasa Inggris, tapi kata “dermatologi” aja bikin mereka gemetar. Dari 1.000 orang yang disurvei itu, baik yang tau definisi kata “dermatologically tested” dan "hypoallergenic” maupun yang nggak, kalo ditanya antara milih produk yang nyantumin label tersebut atau yang nggak, semuanya kompak pilih produk yang ada embel-embel “dermatologically tested” atau “hypoallergenic”. Waoww luar biasa the power of kedua label ini yakaaann!

Sebelum kita julidin mereka yang nggak tau arti kata kedua label itu atau diem-diem kita pun ragu artinya, yuk cusss cari tau dulu arti kedua istilah itu kata per kata dengan sebenar-benarnya.

 

Dermatologi gabungan dari kata “derma” (bahasa Yunani untuk kulit) dan “tologi” yang asalnya dari kata “logia” dalam bahasa Yunani yang artinya ilmu. Jadi, Dermatologi adalah ilmu yang mempelajari kulit, termasuk kuku dan rambut. Kalo dermatologis adalah orang yang ahli di bidang dermatologi. Jadi kesimpulannya, istilah “dermatologically tested” adalah untuk merujuk produk yang udah diuji ke kulit manusia sama sekelompok ahli dermatologi.

Move on ke istilah “hypoallergenic" berasal dari Bahasa Yunani, kata apa pun yang mengandung “hypo” itu adalah lawan dari kata “hyper” yang merujuk negatif kata sesudahnya. Jadi “hypo” dan “allergenic” kalo diartikan adalah sesuatu yang nggak atau sedikit memicu alergi dan iritasi. Nah masalahnya, produk-produk yang mengaku hypoallergenic itu kadang mengandung wewangian dan pengawet yang di banyak kasus, pemicu alergi dan iritasi. Nah lho!

Secara medis ternyata nggak dikenal lho definisi hypoallergenic ini gaes! Ya pastinya para ahli sadar banget kalo beda kulit, beda juga bahan yang bikin iritasi - dan itu nggak bisa dipukul rata. Istilah “hypoallergenic” ini ternyata emang taktik perusahaan kosmetik dan skincare aja untuk jualan produk. Awalnya mereka menyantumkan label “hypoallergenic” ini karena produk kosmetik dan skincare yang mereka produksi mengandung bahan-bahan yang dikenal jarang, kurang, nggak berpotensi atau dan bahkan sama sekali nggak memicu alergi dan iritasi.

Nggak heran ilmu dermatologi sendiri nggak pernah pakai istilah “hypoallergenic” karena pada kenyataannya nggak ada satu bahan pun yang bisa diklasifikasiin non-allergenic (beda kulit beda reaksi), selain ya emang nggak ada metode untuk mengklasifikasi suatu produk hypoallergenic atau nggak. Terlalu kompleks dan luas jenis-jenis kulit manusia di dunia ini, sementara bahan kosmetik atau skincare pun selalu berkembang.

Metode Tes Dermatologi

Biasanya tes dermatologi ini pakai tes yang disebut repeat-insult patch di 50 relawan (minimal orang yang diperlukan biar samplenya valid). Sejenis band-aid lebar dengan 10 lubang ditempelkan di punggung, tapi sebelumnya diaplikasikan dulu produk yang mau dites lalu didiamkan selama 48 jam. Reaksi alergi ini biasanya akan keliatan antara 36-96 jam setelah produk dipakai. Kalo emang memicu alergi, di kulit yang dioleskan produk akan muncul merah-merah di kulit yang dibarengi gatal atau benjolan (semacam jerawat).

Proses ini bakal diulang 9 kali lagi (total 10 kali), jadi kalo pakai 50 relawan akan terkumpul 500 sample. Udah kelar? Ya belum lah! Beberapa minggu kemudian (tapi ada juga yang hanya seminggu), produk yang sama dipakai lagi ke 50 orang yang sama di lokasi yang berbeda untuk melihat apakah ada relawan yang sensitif sama bahan-bahan tertentu. Untuk keperluan ini, dari sekitar 50 orang relawan tadi, setengahnya sengaja dipilih yang kulitnya sensitif.

Setelah kelar tes dermatologi di sekelompok relawan, kalo nggak muncul reaksi alergi, langsung bisa klaim produknya hypoallergic. Terus gimana kalo ternyata muncul gejala iritasi? Gampang, tinggal ganti aja si relawan atau diakalin supaya memenuhi syarat, karena toh hasilnya nggak perlu dipublikasikan. (Yes gaes, FYI perusahaan kosmetik atau skincare nggak perlu melampirkan hasil pemeriksaan hypoallergenic waktu daftarin produknya!).

Singkat cerita, validasi prosedur dan hasil penelitian dermatologi tuh sebenernya meninggalkan banyak tanda tanya besar. Kita nggak pernah tau apakah tesnya udah cukup bisa mewakili kulit-kulit manusia di muka bumi ini kalau minimal cuma pake 50 relawan (yang pada pelaksanaanya mungkin belum tentu juga beneran 50 orang - mungkin saja kurang demi menekan bujet, misalnya?). Lalu dermatologis mana yang menguji produk itu? Relawan tesnya kulit manusia dari ras apa saja? Kulit orang di Asia (Asia juga macam-macam bentuk manusia dan tipikal kulitnya) sudah pasti beda dengan Kaukasia dan Afrika, dan sebagainya.

Terlalu Luas

Tiap produk itu unik jadi nggak bisa dipukul rata penelitiannya. Plus, klaim yang tiap produk tawarkan pun beda-beda. Yang satu buat mengecilkan pori-pori, sementara yang satu untuk merawat jerawat, selain kata “kulit” itu sendiri juga artinya luas banget. Perawatan kulit muka (yang jenisnya juga banyak itu) juga beda sama perawatan kulit tangan, leher, punggung, kulit kepala, dan masih banyak lagi. Di mana yang pasti beda formula dan juga cara pakainya. Di industri kecantikan atau kosmetik pun juga nggak ada standar atau supervisi untuk memvalidasi mana produk yang benar-benar udah dermatologically tested dan apakah tes dermatologi yang dilakukan sudah sesuai prosedurnya (lha standarnya saja nggak ada, gimana bisa dinilai yakaan?).

Jadi mungkin saja emang benar-benar sudah dites di kulit manusia sama para dermatologis untuk melihat potensi iritasi atau reaksi alergi, tapi metodenya seperti apa pun kita nggak pernah tahu. Soalnya beda metode, beda juga hasil. Misalnya nih, krim yang dites di 50 cewek dengan dia mencoba sendiri di rumah selama periode tertentu sama 10 orang cewek di lab dengan aturan ketat pasti hasilnya beda. Bikin bingung banget kan klaim “dermatolgically tested” itu? Ndilalah orang dengan gampangnya percaya kalau produk ada label itu pasti lebih aman dan efektif, sementara tesnya aja nggak jelas. Kondisi ini ditambah ketidaktahuan konsumen sama istilah “dermatologically tested” yang lalu dimanfaatkan untuk jadi bahasa marketing yang menjual dan bikin kita semua sempat pernah kemakan sama garansi “keamanan” semunya.

Padahal setiap produk pasti sudah melalui tes untuk bisa dirilis ke pasaran, makanya, sebenarnya nggak ada nilai tambah dari produk berlabel 'dermatologically tested'.

 

Jadi Mesti Gimana?

Nah, lain kali kalo liat label itu, jangan langsung pasrah. Selidiki lebih lanjut klaim si produk dan pastikan produk itu emang yang kulit kita butuhkan. Paling gampang ya liat daftar komposisinya untuk cek bahan-bahannya. Lalu kalo masih kepo dan emang punya waktu, cari laporan riset kuantitatif dan review atau pendapat orang-orang yang pernah mencoba produk tersebut di Internet.

Kalau punya kulit sensitif atau riwayat alergi, cara terbaik adalah kenali dulu penyebab alergi di kulit masing-masing. Jadi pas baca daftar komposisi produk udah tau bahan-bahan apa aja yang mesti dihindari. Trik lainnya adalah pilih produk-produk dengan komposisi yang nggak terlalu banyak, supaya kalo terjadi alergi lebih gampang mencari tahu penyebab alerginya.

Ketimbang mengandalkan label “dermatologically tested” dan “hypoallergenic" kalau emang mau nyari produk yang memang sudah diakui, mending cari label American Academy of Dermatology Seal of Recognition yang diterbitkan Asosiasi Dermatologi Amerika (ADA) dan anggotanya dermatologis mancanegara. Untuk mendapatkan label ini, data-data pengujian produk akan bener-bener dipelajari sama sekelompok tim ahli ADA dan harus memenuhi seperangkat kriteria yang evidence-based. Emang nggak banyak produk yang punya label ini, tapi kalo emang mau cari validasi yang lumayan terpercaya, sejauh ini cuma AADSR lah yang bisa dijadikan patokan - biarpun sifatnya cuma sebatas pengakuan.

Ingatlah gaes, nggak ada jaminan produk hypoallergenic atau dermatologist tested lebih berkualitas dari yang tak berlabel. Jadi mending kenali kulit sendiri dan rajin-rajin baca daftar komposisi produk karena pasrah adalah pangkal bencana.

Baca lebih lanjut

Ilustrasi Paula's Choice Clinical dan Boost - beningbersinar

Efektif Mana, Paula’s Choice 10% Niacinamide Booster atau Clinical Niacinamide 20% Treatment?

Grafis cleansing balm - beningbersinar

Cleansing Balm

Ilustrasi 7 Pilihan Cream Andalan Berbagai Kebutuhan Kulit - beningbersinar

7 Pilihan Cream Andalan Berbagai Kebutuhan Kulit

Komentar

Izzatur Rahmah November 5 2020

waaaaahh. makasih mbak ira untuk ilmunya. Baru tau dan baru ngerti. Tapi selama ini aku ga pernah pilih produk dengan dua label di atas. Lebih penting liat ingredientnya karena sedikit banyak udah tau apa yang cocok dan yang ga cocok di kulit. Hanya sajaaaa, kalau liat dua label itu memang rasanya tenang. OH BAGUS BERARTI hahaha ternyata selama ini salah.